Minggu, 26 April 2015

PENDIDIKAN KARAKTER

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

“Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya”

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Plegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.
SEJARAH PENDIDIKAN ISAM DARI MASA KE MASA
Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di permukaan bumi. Begitupun dengan perkembangan ilmu pendidikan Islam sendiri, pada periode klasik pendidikan Islam muncul sejak agama Islam lahir dibawa oleh Rasulullah lalu kemudian diteruskan oleh Khulafah Al-rasyidin. Baru setelah itu turun temurun ke dinasti Umayyah lalu ke dinasti Abbasiyah.
            Perkembangan pendidikan Islam pada periode klasik ini terus tumbuh dan berkembang sampai akhirnya mencapai masa kejayaannya. Lembaga-lembaga pendidikan terus bermunculan, kurikulum pendidikan pun terus berkembang seiring perkembangan zaman. Kemajuan ilmu pengetahuan ini berimbas juga pada kesejahteraan masyarakatnya yang semakin makmur dan maju.

TEKNOLOGI DAN MEDIA MEMUDAHKAN PEMBELAJARAN

TEKONOLOGI DAN MEDIA MEMUDAHKAN PEMBELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN
1.        LATAR BELAKANG
 Masalah pendidikan dan pengajaran merupkan masalah yang cukup komplek dimana banyak faktor yang ikut mempengaruhinya. Salah satu faktor tersebut diantaranya adalah.
     Guru bertugas untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui proses interaksi kumunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi antara guru dengan siswanya.
Untuk memperlancar komunikasi antara guru dan siswanya, diperlukanlah media sebagai perantaranya selain media dalam proses belajar mengajar juga diperlukan adanya teknologi pembelajaran. Karene teknologi pembelajaran kan menentukan keberhasilan proses pembelajaran dalam mencapai tujua pembelajaran itu dilakukan.




















BAB II
PEMBAHASAN
A.  TEKNOLOGI
Teknologi sebenarnya telah ada sejak nenek moyang kita. Teknologi merupakan alat bantu untuk mempermudah kehidupan manusia. Nenek moyang menggunakan teknologi seperti pisau dari batu untuk berburu. Kata teknologi selalu memiliki berbagai penafsiran, mulai dari sekadar peranti keras hingga cara yang sistematis dalam menyelesaikan masalah. Kata ini berasal dari bahasa Yunani technologia. Techne artinya kemampuan dan Logia artinya ungkapan.
Teknologi merupakan istilah yang luas berkaitan dengan pemanfaatan dan pengetahuan tentang perkakas dan keterampilan (Wikipedia, 2006).
Di era saat ini, teknologi berkembang sangat pesat. Teknologi yang pada zaman nenek moyang seperti barang rongsokan kini menjadi barang canggih yang mampu membantu kehidupan manusia. Dengan adanya pembelajaran dan proses belajar mengajar, Sumber Daya Manusia akan menjadi sangat baik dan teknologi akan semakin maju. Pembelajaran akan sangat baik apabila menggunakan media pembelajaran yang baik pula.

B.  MEDIA
Media merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Media digunakan agar pembelajaran dapat efektif dan menyenangkan. Proses belajar akan lebih baik lagi apabila mengetahui pengertian dasar mengenai teknologi, media, dan pembelajaran.
Media merupakan bentuk jamak dari medium yang artinya sarana komunikasi. istilah inI mengacu pada sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan penerima. Enam kategori dasar media adalah teks, audio, visual, video, manipulatif(objek), dan orang-orang (teknisi). Tujuan media adalah untuk memfasilitasi komunikasi dan belajar.
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk kedua dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.
Media menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Sedangkan Gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa media adalah sarana penyalur pesan agar dapat dirangsang oleh otak, perasaan dan kemauan kita.


C. MACAM-MACAM MEDIA PEMBELAJARAN

No
Kelompok media
Media intruksional
1
Audio
-          Pita audio (rol atau kaset)
-          Piringan audio
-          Radio (rekaman siaran) 
2
Cetak
-          Buku teks terprogram
-          Buku pegangan atau manual
-          Buku tugas
3
Audio cetak
-          Audio-cetak
-          Buku latihan dilengkapi kaset
-          Gambar atau poster (dilengkapi audio)
4
Proyeksi visual diam
-          Proyeksi visual diam
-          Film gerak (slide)
-          Film rangkai (berisi pesan verbal)
5
Proyeksi visual diam dengan audio
-          Proyeksi visual diam dengan audio
-          Film bingkai (slide suara)
-          Film rangkai suara
6
Visual gerak
-          Visual gerak
-          Film bisu dengan judul (caption)
7
Visual gerak dengan audio
-          visual gerak dengan audio
-          film suara
-          video, vcd dan dvd
8
Benda
-          benda
-          benda nayta
-          model tiruan (mock-up)

D. BELAJAR
Belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses terjadi pada diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan tingkah laku aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadarinya.
Proses belajar pada hakekatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan adanya gejala-gejala perubahan prilaku yang tampak.
E. JENIS-JENIS BELAJAR
Di dalam proses belajar terdapat berbagai macam jenis belajar. Jenis-jenis belajar menurut Gagne terbagi menjadi 8 jenis yaitu


No
JENIS-JENIS BELAJAR
1
Belajar isyarat (signal learning)
2
Belajar stimulus respon
3
Belajar merantaikan (chaining)
4
Belajar asosiasi verbal (verbal Association)
5
Belajar membedakan (discrimination)
6
Belajar konsep (concept learning)
7
Belajar dalil (rule learning)
8
Belajar memecahkan masalah (problem solving)

Dari kedelapan jenis tersebut dapat menumbuhkembangkan perilaku kognitif yang mencakup pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Selain dari kognitif aspek afektif dan psikomotor sesorang juga tumbuh. Aspek afektif mencakup Penerimaan, Sambutan, Penilaian, Pengorganisasian, Karakterisasi. Sedangkan psikomotor mencakup Kesiapan (set), Meniru (imitation), Membiasakan (habitual), Adaptasi (adaption). Dari tumbuhnya ketiga aspek tersebut barulah seseorang dapat dikatakan telah mencapai tujuan dari belajar.
Belajar kognitif dimana adalah belajar yang berkaitan dengan aspek intelektual. Kompetensi kawasan kognitif meliputi menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensitesakan dan menilai pengalaman belajar. Pengalaman belajar untuk kegiatan hafalan dapat berupa berlatih menghafal misalnya menggunakan jembatan ingatan yaitu dengan dihubungkan dengan benda-benda, kata-kata atau sebagainya yang biasa ditemukan dan mudah diingat sebagai jembatan kita untuk mengingat hafalan kita. Jenis materi pembelajaran yang perlu dihafal dapat berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Pengalaman belajar untuk tingkat pemahaman dilakukan dengan membandingkan, mengidentifikasikan karakteristik dan sebagainya. Pengalaman belajar tingkatan aplikasi dilakukan dengan jalan menerapkan rumus dalil atau prinsip terhadap kasus nyata yang terjadi di lapangan. Pengalaman belajar tingkatan sintesis dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau komponen, menyusun membentuk bangunan, menggambar dan sebagainya. Pengalaman belajar untuk mencapai kemampuan dasar tingkatan penilaian dilakukan dengan memberikan penilaian terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu.
Berkaitan dengan kawasan afektif, pengalaman belajar yang perlu dilakukan agar siswa mencapai tingkatan kompetensi afektif yaitu dengan mengamati dan menirukan contoh/model, mendatangi objek studi yang dapat memupuk pertumbuhan nilai, berbuat atau berpartisipasi aktif sesuai dengan tuntutan nilai yang dipelajari dan sebagainya.
Untuk kawasan psikomotor, pengalaman belajar yang dapat dilakukan untuk mencapai kompetensi ini adalah berlatih dengan frekuensi tinggi dan intensif, latihan menirukan, menstimulasikan, mendemonstrasikan, gerakan yang ingin dikuasai.
Untuk kawasan interpersonal. Belajar dalam ranah antarpersonal melibatkan interaksi diantara orang-orang. Kemampuan interpersonal merupakan keterampilan orang yang membutuhkan kemampuan untuk berhubungan secara efektif dengan orang lain. Guru bertugas sebagai fasilitator dan para siswa sering ditempatkan dalam kelompok kooperatif untuk berbagai kegiatan belajar.

F. PERSPEKTIF PSIKOLOGIS MENGENAI BELAJAR
1.    Pandangan Behavioristik
     Skinner, seorang psikolog di Harvard University, melakukan studi ilmiah tentang perilaku yang dapat diamati. Dia adalah seorang pendukung behavioristik. Dia tertarik pada belajar keterampilan baru, seperti yang digambarkan oleh anjing Pavlov, dimana perangsangan asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan (Psikologi Pendidikan, 94). Berdasarkan teori belajar itu dikenal dengan teori penguatan. Serangkaian percobaan juga dilakukan pada merpati. Dia beralasan bahwa prosedur yang sama bisa digunakan dengan manusia. Hasilnya adalah munculnya instruksi yang diprogramkan yang kemudian berkembang menjadi instruksi komputer-assistend. Tidak seperti sebelumnya belajar penelitian, karya Skinner sangat logis dan tepat, yang mengarah langsung ke instruksi belajar. Behavioristik menolak untuk berspekulasi mengenai apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Mereka hanya mengandalkan perilaku yang diamati. Sebagai hasilnya, mereka lebih nyaman menjelaskan tugas-tugas belajar yang relatief sederhana. Karena pada posisi ini, behavioristik memiliki aplikasi terbatas dalam mengajarkan keterampilan tingkat yang lebih tinggi. Behavioristik enggan untuk membuat kesimpulan tentang bagaimana mengenai memproses informasi.
2.    Pandangan Kognitif
     Belajar adalah perubahan presepsi dan pemahaman, tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.Teori ini lebih mengutamakan proses belajar daripada hasil belajarnya. Kognitif memberikan kontribusi baru untuk belajar teori dengan menciptakan model tentang bagaimana peserta didik menerima, proses, dan memanipulasi informasi. Kognitif membuat model mental dari memori jangka pendek dan jangka panjang. Informasi baru disimpan dalam memori jangka pendek, di mana ia dilatih hingga siap untuk disimpan dalam memori jangka panjang. Pembelajar kemudian menggabungkan informasi dan keterampilan dalam memori jangka panjang untuk mengembangkan strategi kognitif, atau keterampilan untuk menangani tugas yang kompleks. Siswa dapat mengembangkan sumber belajar yangtersedia.
3.    Pandangan Konstruktivistik
     Konstruktivistik melibatkan siswa dalam pengalaman belajar. Konstruktivistik menekankan bahwa siswa dapat menciptakan ide mereka sendiri. Siswa menempatkan pengalaman belajar dalam pengalaman mereka sendiri dan tujuan instruksi tidak untuk mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi sehingga siswa dapat menginterpretasikan informasi untuk pemahaman mereka sendiri. Dalam hal ini guru hanya membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru juga tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Konstrutivistik dapat membangun dan mengubah daya pikir siswa menuju kepemikiran modern dan dapat mengembangkan manusia dan mempunyai bakat yang luar biasa, memiliki kepekaan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat mendidik dirinya maupun generasi selanjutnya serta mampu berkolaborasi memecahkan masalah pendidikan baik praktek maupun teori dan mengarahkan ke masa depan
4.    Pandangan Sosial-Psikologi
     Psikologi sosial adalah perspektif lain dalam studi pengajaran pembelajaran. Sosial psikolog melihat efek dari organisasi sosial kelas pada pembelajaran.Belajar merupakan proses pembentukan makna. Belajar bukanlah proses mengumpulkan informasi, melainkan proses pengembangan pemahaman atau pemikiran dengan membuat pemahaman baru. Proses belajar terjadi pada saat terjadi ketidak seimbangan stuktur kognitif pada diri seseorang.

G. PERAN TEKNOLOGI DAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
       Teknologi dan media dapat melayani banyak peran dalam pembelajaran. Ketika pengajaran adalah berpusat pada guru (teacher-cntered), teknologi dan media digunakan untuk mendukung presentasi pengajaran. Sebagai contoh, guru mungkin menggunakan papan elektronik untuk menampilkan materinya. Selain itu, ketika pengajaran adalah berpusat pada siswa (student-centered), siswa adalah pengguna pokok teknologi dan media. Penggunaan kegiatan berpusat pada siswa memungkinkan guru menghabiskan lebih dari waktu mereka mendiagnosis dan mengkoreksi masalah-masalah siswa, mengkonsultasi dengan individu siswa, dan mengajar sata-satu dan dalam kelompok kecil. Penggunaan teknologi dan media oleh siswa ada dua yang penting, yaitu portfolio dan pendidikan jarak jauh. 
  
H. SETTING PEMBELAJARAN
Pembelajaran dapat bertempat pada banyak setting berbeda. Setting pembelajaran adalah sekitar atau yang mengelilingi dalam pembelajaran. Selain di ruang kelas, pembelajaran juga terjadi di laboratorium (laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa), perpustakaan, pusat media, taman bermain, gedung teater, tanah lapang, ruang belajar, dan di rumah. Ada dua setting pembelajaran yaitu synchronous dan asynchronous. Untuk pengajaran synchronous, pembelajar harus menyajikan pada waktu yang sama. Sebagai contoh, dalam presentasi di dalam ruang kelas, program televisi langsung (bukan videotape), atau teleconference. Dalam pengajaran synchronous ada dua tipe. Yang pertama ialah pengajaran langsung, face to face. Dan yang kedua sering disebut pembelajaran jarak jauh. Kegiatan pengajarannya dalam waktu yang sama tapi pembelajar dapat berada di tempat yang berbeda, contohnya adalah dengan chatting. Pengajaran yang kedua adalah asynchronous. Pembelajaran ini tidak harus dilaksanakan tidak pada waktu yang sama.

I. STRATEGI
Strategi berarti suatu jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Strategi dideskripsikan sebagai sebuah prosedur pengajaran yang dipilih untuk membantu proses kegiatan belajar. Strategi pembelajaran adalah suatu cara yang melibatkan pembelajar dalam sebuah aktivitas belajar mengajar. Contohnya adalah termasuk presentasi, demonstrasi, cooperative learning, permainan, simulasi, pemecahan masalah, diskusi, drill-and-practice, discovery, dan tutorial. Teknologi dan media akan melengkapi dan mendukung banyak strategi pembelajaran. Setelah memilih strategi, selanjutnya memilih teknologi dan media untuk mengimplementasikan strategi tersebut.
























BAB III
KESIMPULAN
Pengertian media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar dan pemecahan masalah manusia dalam proses belajar.
Hubungan antara media dengan teknologi pembelajaran sangat erat karenakan di dalam menerapkan teknologi pembelajaran kita harus menggunakan media agar guru dapat menyampaikan pesan dalam bentuk materi dengan mudah dan siswa dapat menerimanya dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.


















DAFTAR PUSTAKA
Prof. Dr. H. Asnawir, Drs. M. Basyiruddin Usman, M. Pd., Media Pembelajaran, Ciputat Pers, 2002 Jakarta. Hal. 1

Dr. Arief S. Sadiman, M. Sc. Dkk, Media pendidikan  pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya, PT. Raja Grafindo Persada, 2003, Jakarta. Hal. 6

Senin, 13 April 2015

BELAJAR TUNTAS

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Model belajar tuntas pada mulanya diperkenalkan oleh John B. Caroll dan Benjamin Bloom. Pokok pikiran yang membedakan strategi ini dari model-model yang tergolong tradisional adalah model ini menerima perbedaan prestasi belajar di kalangan para siswa sebagai konsekuensi adanya perbedaan bakat.
Pengembangan model belajar tuntas terutama di landasi oleh pokok-pokok pikiran dalam psikologi behavioristik yang menitik beratkan pembentukan tingkah laku dan penggunakan pola belajar individual sebagaimana halnya strategi paket belajar (sistem modul ).
Secara sederhana konsep belajar tuntas mengajarkan (Caroll) bilamana siswa di beri kesempatan mempergunakan waktu yang di butuhnkannya untuk belajar dan ia mempergunakannya sebaik-baiknya, maka ia akan mencapai tingkat hasil belajar seperti yang di harapkan. Dengan kata lain bahwa setiap siswa yang mempunyai kecakapan rata-rata (normal) jika diberi waktu yang cukup untuk belajar, mereka dapat diharapkan untuk menyelesaikan tugas-tugas belajarnya secara tuntas , sepanjang kondisi belajar yang tersedia cukup menguntungkan
Maksud utama konsep belajar tuntas adalah usaha dikuasainya bahan oleh sekelompok siswa yang sedang mempelajari bahan tertentu secara tuntas.

Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian belajar tuntas ?
2.      Bagaimana strategi belajar tuntas ?
3.      Apa ciri-ciri belajar tuntas ?
4.      Apa saja  keunggulan dan kelemahan belajar tuntas ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Strategi Pembelajaran
1.    Orientasi
Pada tahap orientasi ini dilakukan penetapan suatu kerangka isi pembelajaran. Selama tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, tugas-tugas yang akan dikerjakan dan mengembangkan tanggung jawab siswa. Langkah-langkah penting yang harus dilakukan dalam tahap ini, yaitu
a.       Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan syarat-syarat kelulusan,
b.      Menjelaskan materi pembelajaran serta kaitannya dengan pembelajaran terdahulu serta pengalaman sehari-hari siswa, dan
c.       Guru mendiskusika langkah-langkah pembelajaran seperti berbagai komponen-komponen isi pembelajaran dan tanggung jawab siswa yang diharapkan selama proses pembelajaran.
2.    Penyajian
Dalam tahap ini guru menjelaskan konsep-konsep atau keterampilan baru disertai dengan contoh-contoh. Jika yang diajarkan berupa konsep baru, adalah penting untuk mengajak siswa untuk mendiskusikan karakteristik konsep, atauran atau defenisi serta contoh konsep. Jika yang diajarkan berupa keterampilan baru, adalah penting untuk mengajar siswa untuk mengidentifikasi langkah-langkah kerja keteramilan dan berikan contoh untuk tiap langkah keterampilan yang diajarkan. Penggunaan media pembelajaran, baik visual maupun audio visual sangat disarankan dalam mengajarkan konsep atau keterampilan baru. Dalam tahap ini perlu diadakan evaluasi seberapa jauh siswa telah paham dengan konsep atau keteramilan baru yang baru diajarkan. Dengan demikian, siswa tidak akan mengalami kesulitan pada tahap latihan berikutnya.
3.    Latihan Terstruktur
Dalam tahap ini guru memberi siswa contoh praktik penyelesaian masalah, berupa langkah-langkah penting secara bertahap dalam penyelesaian suatu masalah atau tugas. Langkah penting dalam mengajarkan latihan penyelesaian soal adalah dengan menggunakan berbagai macam media (misalnya OHP, LCD dan sebagainya) sehingga semua siswa bisa memahami setiap langkah kerja dengan baik. Dalam tahap ini siswa perlu diberi beberapa pertanyaan, kemudian guru memberi balikan atas jawaban siswa.
4.    Latihan Terbimbing
Pada tahap ini guru memberi kesempatan pada siswa untuk latihan menyelesaikan suatu permasalahan, tetapi masih dibawah bimbingan. Dalam tahap ini guru memberikan beberapa tugas atau permasalahan yang harus dikerjakan siswa, namun tetap diberi bimbingan dalam menyelesaikannya. Melalui kegiatan latihan terbimbing ini memungkinkan guru untuk menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan sejumlah tugas dan melihat kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa. Peran guru dalam tahap ini adalah memantau kegiatan siswa dan memberikan umpan balik yang bersifat korektif jika diperlukan.


5.    Latihan Mandiri
Tahap latihan mandiri merupakan inti dari strategi ini. Latihan mandiri dilakukan apabila siswa telah mencapai skor unjuk kerja antara 85%-90% dalam tahap latihan terbimbing. Tujuan latihan mandiri adalah menguatkan atau memperkokoh bahan ajar yang baru dipelajari, memastikan peningkatan daya ingat atau retensi, serta untuk meningkatkan kelancaran siswa dalam menyelesaikan permasalahan. Kegiatan pratik dalam tahap ini tanpa bimbingan dan umpan balik dari guru. Kegiatan ini dapat dikerjakan dikelas atau berupa pekerjaan rumah. Peran guru dalam tahap ini adalah menilai hasil kerja siswa setelah selesai mengerjakan tugas secara tuntas. Jika perlu atau masih ada kesalahan, guru perlu memberi umpan balik. Perlu diberikan beberapa tugas untuk diselesaikan oleh siswa sehingga dapat mempertahankan daya ingat siswa.

Secara umum keuntungan penggunaan strategi pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1.      Siswa dengan mudah dapat menguasai isi pembelajaran.
2.      Meningkatkan motivasi belajar siswa.
3.      Meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah secara mandiri.
4.      Meningkatkan kepercayaan diri siswa.

B.  CIRI-CIRI BELAJAR TUNTAS
1.    Para siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajaran.
2.    Bakat seorang siswa dalam suatu bidang pengajaran tertentu dapat diramalkan, baik tingkatnya (yaitu bahan yang dipelajari dalam bidang pengajaran itu dalam waktu yang telah ditentukan) maupun satuan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut sampai ketingkat penguasaan tertentu. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu.
3.    Tingkatan hasil belajar
Tingkat hasil belajar bergantung  pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Dalam situasi sekolah yang sebenarnya waktu yang digunakan dan waktu yang dibutuhkan di pengaruhi oleh karakteristik siswa dan karakteristik pengajaran. Karakteristik siswa berkenaan dengan bakat dan ketekunan belajar. Karakteristik pengajaran berkenaan dengan kesempatan belajar, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pengajaran.
4.    Model carroll
Tingkat belajar
A.    Ketentuan.
B.     Kesempatan belajar.
C.     Bakat.
D.  Kualitas pengajaran.
E.   Kemampuan memahami pengajaran.
5.    Kendatipun bakat diperhatikan jika siswa diberi kesempatan belajar yang seragam dan kualitas pengajaran yang seragam pula, hanya sedikit siswa yang dapat mencapai tingkat mastery (menguasai). Sebaliknya, setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula, mayoritas siswa dapat mencapai tingkat mastery.

C.  KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN BELAJAR TUNTAS
Strategi belajar mengajar tuntas mengandung beberapa keunggulan, antara lain:
1.    Strategi ini memungkinkan siswa belajar lebih aktif sebagaimana disarankan dalam konsep CBSA yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan diri sendiri, memecahkan masalah sendiri dengan menemukan dan bekerja sendiri.
2.    Strategi ini sejalan dengan pandangan psikologi belajar modern yang berpegang pada prinsip perbedaan individual, belajar kelompok.
3.    Strategi ini berorientasi kepada peningkatan produktivitas hasil belajar, yakni siswa menguasai bahan pelajaran secara tuntas, menyeluruh, dan utuh
4.    Dalam strategi ini, guru dan siswa diminta bekerja sama secara partisipatif dan persuatif, baik dalam proses belajar maupun dalam proses bimbingan terhadap siswa lainnya.
5.    Penilaian yang dilakukan terhadap kemajuan belajar siswa mengandung unsur objektivitas yang tinggi sebab penilaian dilakukan oleh guru, rekan sekelas, dan diri sendiri, dan berlangsung secara berlanjut serta berdasarkan ukuran keberhasilan (standar prilaku) yang jelas dan spesifik.
6.    Pada hakikatnya, strategi ini tidak mengenal siswa yang gagal belajar atau tidak naik kelas karena siswa yang ternyata mendapat hasil yang kurang memuaskan atau masih dibawah target dari hasil yang diharapkan, terus-menerus dibantu oleh rekannya dan guru.
7.    Pengajaran tuntas berdasarkan perencanaan yang sistemik, yang memiliki derajat koherensi yang tinggi dengan garis-garis besar program pengajaran bidang studi.
8.    Strategi ini menyediakan waktu belajar yang cukup sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing individu siswa sehingga memungkinkan mereka belajar secara lebih leluasa.
9.    Strategi belajar tuntas berusaha mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam strategi belajar mengajar lainya. Yang berdasarkan pendekatan kelas saja, atau kelompok saja, atau individualisasi saja.
10.              Strategi ini mengaktifkan guru-guru sebagai suatu regu yang harus bekerja sama secara efektif sehingga kelangsungan proses belajar siswa dapat terjamin dan berhasil optimal.
Strategi pengajaran tuntas juga mengandung beberapa kelemahan antara lain:
1.    Strategi ini sulit dalam pelaksanaannya karena melibatkan berbagai kegiatan. Yang berarti menuntut macam-macam kemampuan yang memadai.
2.    Guru-guru umumnya masih mengalami kesulitan dalam membuat perencanaan belajar tuntas karena harus dibuat untuk jangka waktu satu semester disamping penyesunan satuan-satuan pelajaran yang lengkap dan menyeluruh.
3.    Guru-guru yang sudah terbiasa dengan cara-cara lama akan mengalami hambatan untuk menyelenggarakan strategi ini yang relatif lebih sulit dan masih baru.
4.    Strategi ini sudah tentu memerlukan berbagai fasilitas, perlengkapan, alat, dana, dan waktu yang cukup besar, sedangkan sekolah-sekolah kita umumnya masih langka dalam segi sumber-sumber teknis seperti yang diharapkan.
5.    Untuk melaksanakan stategi ini yang mengacu kepada penguasan materi belajar secara tuntas pada gilirannya menuntut para guru agar menguasai materi tersebut secara lebih luas, menyeluruh, dan lengkap. Hal itu para guru agar belajar lebih banyak dan menggunakan sumber-sumber yang lebih luas.
6.    Diberlakukannya sistem ujian (EBTA dan EBTANAS) yang menuntut penyelenggaraan program bidang studi pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan para siswa untuk menempuh ujian, mungkin menjadi salah satu unsur penghambat pelaksanaan belajar tuntas yang diharapkan.
 BAB  III 
    PENUTUP

        Kesimpulan
Setiap pembelaran perlu melakukan adanya kegiatan mengenai belajar tuntas seperti apa,
Belajar tuntas terasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis.

 DAFTAR PUSTAKA

Made wena.Strategi pembelajaran inovatif kontemporer.jakarta: Bumi Aksara.2010
Abu Ahmadi & Joko Tri Prasetyo.Strategi belajar mengajar.Bandung : CV. Pustaka. 1997

Ali Mohammad.Guru Dalam Proses Belajar Mengajar.Bandung : CV. Sinar Baru Bandung.1984